Kesehatan adalah aset yang paling berharga bagi setiap individu, tanpa terkecuali. Namun dalam praktiknya, ada kecenderungan mengabaikan kesehatan, khususnya di kalangan pria. Kesehatan pria seringkali tidak mendapat perhatian yang cukup, baik dari perspektif pribadi maupun dalam diskursus kesehatan publik. Artikel ini akan menggali alasan di balik pentingnya kesehatan pria dan mengapa ia sering diabaikan.

  1. Stigma dan Norma Sosial
    Stigma sosial yang berkaitan dengan maskulinitas seringkali membuat pria enggan untuk mencari bantuan atau pengobatan. Terdapat persepsi bahwa pria harus kuat, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional, sehingga mengakui kebutuhan akan perawatan kesehatan terasa seperti tanda kelemahan. Akibatnya, banyak pria yang menunda-nunda atau bahkan menghindari kunjungan ke dokter sampai masalah kesehatan mereka menjadi serius.
  2. Kurangnya Kesadaran
    Kesadaran akan isu-isu kesehatan pria, terutama yang berkaitan dengan kondisi spesifik seperti kanker prostat atau testis, seringkali kurang dibandingkan dengan isu kesehatan wanita yang lebih sering mendapat sorotan publik. Ini dapat mengakibatkan kurangnya pengetahuan tentang gejala, risiko, dan strategi pencegahan yang efektif.
  3. Prioritas dan Tuntutan Hidup
    Banyak pria yang menempatkan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga di atas kesehatan pribadi mereka. Hal ini bisa karena tekanan untuk menjadi pencari nafkah atau karena norma sosial yang mengharuskan pria untuk selalu ‘ada’ dan ‘kuat’ dalam segala situasi. Prioritas yang terbalik ini seringkali mengarah pada penomorduaan kesehatan pria.
  4. Keterbatasan Akses dan Sumber Daya
    Dalam beberapa kasus, terdapat keterbatasan dalam akses terhadap layanan kesehatan yang dirancang khusus untuk pria, seperti klinik kesehatan pria atau program skrining yang menargetkan masalah kesehatan pria. Selain itu, kurangnya sumber daya yang dialokasikan untuk penelitian tentang kondisi kesehatan yang mempengaruhi pria secara eksklusif atau lebih sering juga berkontribusi pada masalah ini.
  5. Perilaku Berisiko
    Statistik menunjukkan bahwa pria cenderung memiliki perilaku berisiko yang lebih tinggi dibanding wanita, termasuk konsumsi alkohol yang berlebihan, merokok, dan mengabaikan diet sehat. Hal ini menambah risiko berbagai penyakit non-komunikabel seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

Kesehatan pria adalah isu yang perlu diberi perhatian lebih. Edukasi kesehatan yang inklusif dan mencakup isu-isu spesifik pria, serta perubahan norma sosial yang mendukung pria untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan, adalah langkah penting yang harus diambil. Pria, keluarga mereka, komunitas kesehatan, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama untuk menghilangkan stigma, meningkatkan kesadaran, dan memastikan bahwa kesehatan pria menjadi prioritas, bukan opsi kedua. Hanya dengan demikian, kita dapat mencapai masyarakat yang lebih sehat di mana setiap individu, tanpa memandang gender, dapat hidup dengan kualitas hidup yang lebih baik.

By edwards